Media Tepercaya Untuk Organisasi Mahasiswa

Pertama Kali Bercumbu Mesra Dengan Bukunya Ifan

Oleh: Siddiqurrohman Abad Arz
(Ketua 1 PC PMII Surabaya)

Fiksi, PMII NEWS Online - Namanya ifan, anak kedua dari empat bersaudara. Awal mengenalnya di tahun 2015 dari salah satu majelis ilmu bernama MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) kebetulan diselenggarakan oleh Mahasiswa UPN dengan megatasnamakan organisasinya yaitu PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

"Mas dari mana?" Tanyaku sambil menatap wajahnya yang masih beku tanpa banyak bicara.

"Dari kampus STESIA cak, saya ingin ikut kegiatan sampean" jawabnya sambil menutup kepalanya yang botak pada waktu itu dengan topi kodok yang sering diperagakan oleh seniman itu.

Lama sudah perjalanan majelis ilmu itu dilaluinya dengan semangat yang terangkai rapi dalam kesibukan kuliahnya di Stesia dan aktivitas lainnya di kampung. Intensitas ikut kegiatan di organisasi PMII UPN tak terbantahkan sedikitpun sampai dilibatkan menjadi pengurus ditahun kedua setelah menjalani masa keanggotaannya selama setahun, oleh karena teman-teman melirik kontribusi yang diberikan oleh ifan sangat baik dan patut diapresiasi.

Malam yang masih malu untuk memberikan jawaban karena tanpa dugaan semata, saya berkesempatan mampir kerumahnya. Dan disitulah saya menemukan senjata menuai semangat pemuda yang mengalir darahnya, yaitu tumpukan buku. Cerita singkatnya begini, awalnya saya mempunyai agenda mengahadiri undangan mengisi TOT di kampus Tasywirul Afkar tetapi harus diundur secara mendadak karena ketua nya berhalangan dapat kabar duka bahwa adiknya masuk rumah sakit waktu itu juga saya sedang terlanjur sampai dikantornya, di mana pekabar online dari beliau masuk di kotak pesan hp (gadget) saya. Saat saya sudah melaju di tengah jalan aspal Surabaya.

"Cak siddiq sudah di mana? Mohon maaf bangat cak, saya diberi kabar oleh ibu, bahwa adik saya mendadak sakit dan mau dibawa ke rumah sakit sekarang juga, gimana ini cak?" Chat whatsapp itu baru saya buka ketika nolah-noleh di depan kantornya namun tidak ada jejak sandal di depan pintunya.

Sepuluh menit kemudian, Aziz salah satu penghuni kantornya menyapa saya dari atas motor berwarna gelap entah namanya apa, saya tak bisa membacanya.

"Cak siddiq maaf nunggu lama. ini kayaknya diundur dulu cak soalnya ketua kom (sebutan untuk ketua organisasi PMII ditingkat kampus) mendadak ada musibah. monggo masuk dulu cak".

Saya mengikuti aziz dari belakang menuju pintu kantornya, tak lama kemudian ada bunyi panggilan di hp saya.

"Assalamualaikum cak siddiq di mana? saya minta bantuannya cak. Ini saya mau pinjam Proyektor punya cabang PMII buat acara besok cak, tapi ketum mengatakan tidak ada, soalnya masih dipinjam orang. Saya tidak enak hati sama warga dan kades cak, soalnya saya sudah bilang pasti ada dan siap untuk nobar (nonton bareng) dipembukaan HUT RI di kampung. gimana cak mungkin ada jalan (solusi) lain sampean?".

Sembari saya pun menjawabnya,

"Ada di Tasywir dan karena kebetulan dekat rumahnya".

Ifan pun mau langsung nyamperin saya sekaligus mau silaturrahim ke kantor barunya PMII Tasywir.

Baru habis sebatang rokok ifan nongol di depan pintu sambil mengucap salam.
Cerita dan diskusi dengan aziz dan seputar obrolan tentang kegentingan yang dihadapi ifan ternyata sudah menghabiskan 2 jam. Akhirnya kami memutuskan untuk saling pamitan, karena waktu sudah larut malam juga. Tetapi sebelum pulang ifan mengajak saya dan aziz untuk main kerumahnya karena kebetulan memang belum pernah main kerumahnya. Saya mengiyakan namun aziz izin tidak bisa ikut bersama kami, karena aziz masih ingin ngotak-atik laptopnya untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.

Kami berdua pun melaju menuju rumah ifan. Sesampainya dirumah ifan "Drekk" seperti ada letusan bunyi ketegangan dari dalam dada saya. Amboy, saya menyaksikan tumpukan buku dan barisan buku yang tertata sedikit di lemarinya. Pemandangan yang sangat lezat ingin sekali saya menyaptapnya dengan lahap. saya langsung kedepan lemari yang sudah terhidang judul buku buku keren, sambil memegang hangatnya buku saya letupkan pertanyaan.

"ini bukumu semua fan?", tanyaku

"bukan cak, itu gabungan dengan masku" jawab ifan

"Lho emang masnya sampean suka baca juga?" tanyaku sedikit heran.

"Iya cak, kakak saya ikut ormek HMI di kampus UNMUH Malang cak. itu cak beliau " Sambil menunjuk ke atas dinding yang ada fotonya ifan beserta keluarga besarnya.

"Oke-oke fan, keren ya".

Saya usaikan dulu kemanjaanku membolak balikkan buku di lemarinya ifan. saya kembli duduk mengambil posisi agak dekat dengannya agar bisa ngobrol santai.

Setelah panjang kali lebar berdialektika sama ifan, ternyata dirinya masih ada satu keinginan yang masih nongkrong dikepalnya. yaitu ingin mendirikan Ranting GP ANSOR di halaman kampungnya. Benar-benar masih ranum semangat yang ia miliki. Selain keinginannya untuk mendirikan PMII di kampusnya ternyata ladang proses di kampungnya masih sangat dia perhatikan.
Baca juga: Cerpen, Burung Puyuh
Saya dukung dia karena jarang sekali menemukan pemuda yang mempunyai abdi dalam semangatnya berproses untuk masa depan dia dan orang lain. dia sudah melawan kekakuan dan kemaluan ketika dihadapkan dengan kemauan berproses di PMII meskipun harus mondar-mandir ke kampus orang lain, ini menjadi kunci yang amat mulia untuk mengetuk kemalasan kita mencari ilmu, karena ifan sudah membuktikannya sampai saat ini bisa berproses seperti orang lain seumurannya meskipun banyak rintangan dan hambatan yang dijumpainya.

Sebelum saya pamitan pulang karena jarum jam sudah tegak berdiri berpasang-pasangan, angin mengajak gigil bulu-bulu kecil ditubuh saya sepertinya sudah menyuruh mencari selimut pengantar lelap. Langsung saja saya minta izin untuk meminjam dua buku yang menculik asmaraku pada judulnya.

"Monggo tidak apa-apa cak, ini buku sampean juga masih saya pinjam", sambil menyodorkan buku yang sebenarnya sudah hilang diingatan saya.

"Wah ceritanya, ini jadi tukeran buku to"

"Hahaha" Kompak saya tertawa lega bersamanya.

Surabaya, 01-08-2017
Tag : Fiksi
0 Komentar "Pertama Kali Bercumbu Mesra Dengan Bukunya Ifan"


Chat Admin
Back To Top