Media Tepercaya Untuk Organisasi Mahasiswa

Idealisme Politik

Opini, PMII NEWS Online - Orang-orang baik menjaga jarak dari politik, tak perlu heran jika politik menjadi tidak baik. Politik, bukan hal yang asing di telinga, namun entah salah apa poltik ini, rasanya politik begitu gatal untuk didengar, seakan segala informasi yang diterima merupakan hal yang menjijikan Mugholadoh banget syuuh. Label bahwa politik merupakan hal yang kotor, licik, penuh tipu muslihat seakan telah menyatu-padu dengan politik itu sendiri, hingga tak bisa dipisahkan presepsi negatif dari politik.
Foto: Penulis Idealisme Politik*

Skeptisme terhadap politik juga tumbuh subur, ditanamkan sejak masih duduk dibangku sekolahan bahwa poltik merupakan hal yang tidak baik, dipupuk dengan teratur oleh orang tua yang berharap anaknya menjadi PNS atau lainnya, yang hidupnya aman, bahkan disiram secara rutin dengan berita dimedia masa yang mudah diakses anak muda namun dengan bangga menggambarkan betapa peliknya kisah perpolitikan atau Pol Polan itik itik Indonesia. Lantas salahkah generasi muda menjadi skeptis pada Nuansa politik, Bahkan pada keadaan tertentu justru resisten.

Sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa tentu memiliki peran penting dalam dunia Catur Politik. Berkecimpung pada dunia kampus, dimana dunia kampus merupakan dunia yang amat kompleks, hal ini dilengkapi dengan jumlah remaja yang menjelang usia dewasa. Dalam menghadapi masa depan tentunya setiap remaja akan mengusahakan dirinya dilengkapi oleh persiapan terbaiknya bukan perasaan pasrah atau nothing to lose.

Tak bisa kita pungkiri, kampus bisa disebut juga sebagai miniatur sebuah negara, dapat dilihat dari kompleksitas penghuni, karenanya tak jarang dari mahasiswa yang berlomba-lomba ingin menjadi politisi kampus, untuk menghadapi politik didunia sesungguhnya, meskipun tak semuanya memiliki orientasi kesana.

Banyak sekali pendapat soal aktivis kampus, entah mengkaitkan dengan hal-hal baik berbau revolusioner hingga hal buruk terkait dengan mahasiswa abadi penjaga kampus. Terlepas dari itu semua, perlu diakui bahwa aktivis yang menjujung tinggi idealismenya kian lama kian berkurang, walaupun masih banyak manusia gila, baik organisasi atau eksistensi yang masih berbangga diri menyebut dirinya sebagai aktivis kampus.

Baca juga: Nasib Bangsa dalam Lingkaran Berita Hoax

Berkurangnya jumlah mahasiswa idealis yang gamblang mengumandangkan kebenaran semakin menipis, tentunya bukan tanpa sebab. Dampak dari kurikulum pendidikan Indonesia sejak dini yang mengajarkan soal buruknya berdemo, unjuk rasa atau semacamnya yang terus di dogma ke anak sekolahan oleh gurunya, kini membuahkan hasil yang siap dipetik, mahasiswa apatis yang gemar mengeluh tanpa solusi.

Peran aktivis dalam organisasi kampus memang tak bisa dipisahkan. Organisasi dikampus tentunya memiliki peran penting dalam menjadi incubator untuk menetaskan kader-kader terbaik untuk memimpin bangsa ini. Kinerja dalam sebuah organisasi merupakan tolak ukur paling mudah untuk meningkatkan sekaligus menilai integritas seseorang.

Tak bisa kita pungkiri, performa seorang anggota dalam kontribusi pada organisasinya merupakan aspek yang paling penting untuk menentukan kelayakannya dalam memimpin organisasi. Bahkan dalam kasus tertentu jabatan pada organisasi diperebutkan karena memiliki banyak kader yang siap memimpin.

Namun sayangnya impian indah dalam orgnisasi untuk mengembangkan kinerja anggotanya kini menjadi angan-angan semata. Banyaknya mahasiswa yang disorentasi organisasi menyebabkan bergesernya pula esensi dari sebuah organisasi yang kini justru sangat materiil.

Parameter keberhasilan sebuah organisasi bukan lagi menjadikan anggotanya sebagai pemimpin, tapi yang menjadi parameter keberhasilan hanya banyaknya event dalam satu periode kepengurusan. Hal yang substansial justru dilupakan, mahasiswa kini lebih mementingkan kemewahan sebuah acara agar mendapat pujian dari pihak luar ketimbang memenuhi esensi dari acara itu sendiri.

Tak usah terlalu utopis, singkat kata. Ketika suatu event menyediakan tempat untuk selfie dan update status, maka acaranya sudah tergolong sukses. Meskipun tujuan utama mecerdaskan kehidupan bangsa harus rela tersingkirkan. Eksistensi dunia maya lebih penting dari ilmu yang ada pada suatu acara.

*Penulis: Ahmad Sahal Mahfud
Tag : Opini
2 Komentar "Idealisme Politik"

Hebat2...
Sudah ada iklannya pak...
Semoga lancar...
Itu fotonya pak mahfud (mantan ketua raton sunan bonang UNISMA ya?

Iya. Sahabat sahal. Mantan 1 PMII Unisma Malang


Chat Admin
Back To Top